Bisnis.com, BALIKPAPAN — Duta Besar Indonesia untuk Kazakhstan Fadjroel Rachman mendorong Pemerintah Kota Balikpapan memperkuat hubungan perdagangan bilateral dengan Astana.
Langkah strategis ini dilatarbelakangi defisit perdagangan Indonesia senilai hampir US$1 miliar dengan negara Asia Tengah tersebut.
Dalam pertemuan dengan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas'ud pada Kamis (28/8/2025), Fadjroel menekankan urgensi implementasi konkret dari rencana kerja sama dengan Kazakhstan yang telah dirintis tahun sebelumnya.
Namun demikian, transisi dari wacana menuju aksi nyata masih menghadapi berbagai tantangan struktural.
"Pak Wali adalah sahabat baik, tahun lalu kami sudah berdiskusi dan tahun ini kami tindak lanjuti dengan langkah-langkah implementasi. Kami ingin mengundang beliau bersama Pemerintah Kota Balikpapan untuk hadir ke Kazakhstan," kata Fadjroel di Balikpapan, Kamis (28/8/2025).
Dia menambahkan, sektor minyak sawit menjadi primadona dalam agenda kerja sama bilateral Indonesia dan Kazakhstan.
Baca Juga
Kazakhstan, sebagai negara landlocked atau terkurung oleh daratan, memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor komoditas pertanian, sementara Indonesia menguasai sekitar 60 persen produksi minyak sawit global.
Selain itu, Fadjroel menjelaskan sektor perikanan turut mendapat sorotan khusus dari Kazakhstan.
"Kazakhstan negara tanpa laut, sehingga kebutuhan impor perikanan mereka besar. Produk-produk seperti ikan dan hasil laut lain dari Balikpapan dan Kaltim sangat potensial untuk masuk ke pasar mereka," tuturnya.
Meski begitu, proyek optimistis ini perlu dikaji lebih mendalam mengingat kompleksitas regulasi ekspor-impor dan standar kualitas internasional yang ketat.
Fadjroel juga menyinggung peluang kerja sama di sektor industri logam, termasuk pembangunan smelter, yang dinilai dapat mengimbangi defisit perdagangan mencapai US$700 juta.
"Kami juga mengundang Pemerintah Kota Balikpapan hadir dalam forum bisnis tersebut. Bahkan sore ini ada pertemuan online dengan 15 pengusaha Kazakhstan," kata dia.
Sedangkan, kehadiran Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur dinilai memperkuat posisi strategis Balikpapan sebagai gateway perdagangan internasional.
Sementara itu, Wali Kota Rahmad Mas'ud menyambut antusias inisiasi kerja sama bilateral dengan Kazakhstan ini.
"Kami menyambut baik, apalagi beliau juga memberikan data-data apa yang dibutuhkan dalam impor maupun ekspor kita," jelasnya.
Rahmad menganalogikan ambisi Balikpapan dengan model bisnis Singapura yang berhasil mentransformasi diri menjadi hub perdagangan regional tanpa mengandalkan sumber daya alam.
"Singapura itu tidak punya minyak, tapi bisa jadi pengekspor minyak. Tidak punya hutan, tapi pengekspor kayu," ucap Fadjroel.
Menurut Rahmad, keunggulan komparatif Pelabuhan Semayang sebagai satu-satunya pelabuhan di Kalimantan Timur yang dapat dilalui kapal bertonase besar menjadi aset krusial dalam merealisasikan ambisi tersebut.
"Potensi itu hanya ada di Balikpapan. Insya Allah ke depan kita kembangkan dari berbagai sektor," pungkasnya.